Malam Ramadan Sadis: Ulah Hasrat Guru Berbini Muda
Ini adalah foto hasil restorasi dari Gemini Agus Naser Atmadiwirja dan istrinya Diah Hodiah. Tingkat akurasi mungkin berbeda dengan aslinya.
Di pengujung era 80-an, warga Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, mengenal sebuah keluarga yang nyaris tanpa cela. Sang suami, Agus Naser Atmadiwirja (54), adalah figur yang disegani.
marikitabaca - Sebagai Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah II Kemayoran yang berdarah "menak" (bangsawan) Sunda, ia adalah personifikasi dari kesantunan: tutur katanya halus, selalu berpeci, rajin ke masjid, dan tak pernah terdengar meninggikan suara.
Sang istri, Diah Hodiah (46), adalah seorang guru di TK Aisyiyah/Trisula. Ia dikenal sebagai wanita mandiri, tegas, dan cukup dominan. Di mata tetangga, mereka adalah pasangan pendidik ideal, sebuah potret "Keluarga Sakinah" kelas menengah yang harmonis.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah mereka, tersimpan "api dalam sekam" yang siap meledak. Agus ternyata memiliki istri siri bernama Saadah di Garut.
Beban menafkahi dua dapur membuat ekonomi Agus morat-marit. Ketimpangan karakter antara Agus yang pendiam (represif) dan Diah yang vokal menciptakan ketegangan sunyi yang mencekam.
Jumat Kelabu, 7 April 1989
Pagi itu, di tengah bulan suci Ramadan, ketenangan rumah di Jalan Cempaka Putih Barat itu pecah. Sekitar pukul 08.00 pagi, Agus meminta uang kepada Diah untuk keperluan Lebaran dan untuk dikirimkan kepada istri mudanya di Garut.
Permintaan itu menjadi pemantik api. Diah menolak keras. Tak hanya menolak, ia melontarkan caci maki yang menyerang ulu hati harga diri Agus sebagai lelaki. Kata-kata seperti "suami tidak berguna" dan sindiran tajam soal ketidakmampuan finansialnya terus dihunjamkan.
Bagi Agus, yang selama ini memendam segalanya di balik senyum santun, pertahanan mentalnya jebol. Ia mengalami apa yang disebut psikolog sebagai catathymic crisis ledakan emosi sesaat yang tak terbendung. Matanya gelap. Tangan yang biasa memegang kapur tulis itu menyambar sepotong besi penahan pintu yang tergeletak di dekatnya.
Satu pukulan keras mendarat di tengkuk Diah. Sang istri tersungkur. Seketika, suasana rumah menjadi sunyi senyap. Diah Hodiah tewas di tangan suaminya sendiri.
Logika Dingin sang Pendidik
Kepanikan sempat menyergap, namun dengan cepat berubah menjadi kalkulasi dingin yang mengerikan. Agus sadar, jika mayat utuh ditemukan, reputasinya sebagai tokoh masyarakat akan hancur lebur. Otaknya bekerja cepat: Jenazah ini harus hilang, tapi bagaimana membawanya keluar di siang bolong?
Agus kemudian melakukan sesuatu yang di luar nalar manusia normal. Ia menyeret tubuh istrinya ke kamar mandi. Di sana, dengan menggunakan golok dapur, ia melakukan depersonalisasi. Di matanya, tubuh kaku itu bukan lagi istrinya, melainkan objek masalah yang harus diurai.
Pilihan Redaksi
Dengan ketelitian seorang ahli anatomi, Agus memotong tubuh Diah menjadi tujuh bagian: kepala, dua lengan, dua tungkai, dada, dan panggul.
Potongan-potongan itu dibungkus berlapis-lapis dengan plastik hitam, lalu dimasukkan ke dalam kardus mie instan dan rokok. Celah-celah kosong disumpal koran agar padat. Diikat rapi dengan tali rafia, paket-paket mengerikan itu kini tampak tak lebih dari sekadar tumpukan barang pindahan atau oleh-oleh.
Perjalanan "The Commuter Killer"
Siang itu juga, Agus keluar rumah dengan pakaian rapi. Ia menenteng kardus-kardus berisi potongan tubuh istrinya menaiki bus kota (PPD) dan mikrolet. Ia duduk tenang di antara penumpang lain, memangku kardus itu seolah sedang membawa berkas sekolah. Tak ada kondektur atau penumpang yang curiga pada bapak berwajah alim tersebut.
Ia menyebar potongan tubuh itu ke penjuru Jakarta untuk memecah jejak. Kaki dibuang di Jalan Gunung Sahari, tangan di Jalan Pemuda, Rawamangun. Namun, rencana sempurnanya memiliki satu celah fatal: potongan kepala kunci identifikasi korban ditinggalkan begitu saja di dalam bus/mikrolet yang mengarah ke Gunung Sahari.
Setelah tugas "pembuangan" selesai, Agus kembali ke rumah. Ia mengepel lantai, membersihkan bercak darah di kamar mandi hingga licin, dan kembali menjalani hidup seolah tak terjadi apa-apa.
Pelarian dan Akhir Perjalanan
Namun, bangkai yang ditutupi akhirnya tercium juga. Penemuan potongan kepala menggegerkan Jakarta. Ahli forensik legendaris, dr. Abdul Mun'im Idries, berhasil mengidentifikasi wajah dan gigi korban sebagai Diah Hodiah. Polisi menyerbu rumah Cempaka Putih, namun Agus sudah hilang.
Sadar jaring hukum mulai mengepung, Agus melarikan diri ke tanah kelahirannya di Garut. Ia bersembunyi di Kecamatan Cisewu, sebuah wilayah berbukit di selatan Garut, menumpang di rumah kerabat istri mudanya.
Tim Buser Polda Metro Jaya tak butuh waktu lama. Berbekal informasi tentang istri mudanya, mereka melacak jejak Agus. Awal Mei 1989, perburuan berakhir. Di sebuah rumah panggung di Cisewu, polisi mendobrak masuk.
Agus Naser tidak melawan. Tidak ada drama, tidak ada air mata. Ia sedang duduk tenang, pasrah, seolah sudah menunggu momen ini. Saat diinterogasi, jawaban pertamanya meluncur datar tanpa beban: "Ya, saya yang melakukannya."
Panggung Sandiwara di Meja Hijau
Sidang pengadilan kasus ini pada tahun 1990 menjadi tontonan surreal bagi publik. Di kursi pesakitan, Agus tetap mempertahankan citra "Bapak Guru". Ia mengenakan batik, celana bahan, dan peci hitam. Tutur katanya sopan, menjawab pertanyaan hakim dengan suara pelan dan terstruktur.
Jaksa Penuntut Umum, Ny. S.T. Wardha, mendakwa Agus dengan pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP), berargumen bahwa ketenangannya saat memutilasi adalah bukti "hati yang jahat". Sementara itu, pengacaranya, Merah Darwin, membela bahwa itu adalah tindakan spontan "mata gelap" akibat harga diri yang diinjak-injak.
Namun, Majelis Hakim melihat fakta lain. Cara Agus membersihkan rumah, membungkus rapi potongan tubuh, dan membuangnya dengan transportasi umum menunjukkan kekejaman yang tak termaafkan. Vonis palu diketuk: Penjara Seumur Hidup.
Wajah Ganda Manusia
Kasus Agus Naser dan Diah Hodiah menjadi legenda kelam kriminologi Indonesia. Ia bukan sekadar kisah pembunuhan, melainkan sebuah studi psikologis tentang Jekyll dan Hyde.
Agus Naser mengajarkan masyarakat satu hal yang menakutkan: bahwa monster tidak selalu berwajah seram. Kadang, monster itu mengenakan pakaian rapi, bertutur kata halus, dan hidup di tengah-tengah kita sebagai sosok yang paling kita hormati, menyembunyikan retakan jiwa yang siap meledak kapan saja.
Belakangan diketahui, pembunuh Diah adalah suaminya sendiri, Agus Naser Atmadiwirja. Alasannya, Agus mengaku kesal dan sakit hati karena sering dimarahi Diah. Di sisi lain, Agus "panik" karena Diah mulai mengendus ia punya istri muda. Dan di hari nahas itu, mereka bertengkar hebat yang berakhir dengan peristiwa tragis itu.
Usai memotong-motong tubuh Diah, memasukkannya ke kantung plastik, dan membuangnya, Agus kemudian menghilang dari rumahnya, Jalan Percetakan Negara, Jakarta. Belakangan, polisi mencokoknya di rumah istri mudanya.
Di persidangan, Agus mengaku mendapat ide mutilasi dari berita tentang mayat terpotong 13 yang ditemukan di Jalan Sudirman, Jakarta, yang hingga kini tetap jadi misteri.
"Saya tiba-tiba teringat dengan berita yang saya baca itu. Saya yakin kalau mayat ini dipotong-potong, polisi akan susah melacaknya," begitu Agus berujar pada hakim yang akhirnya memvonisnya hukuman seumur hidup.
Editor: Dika Febrian
Sumber: Diolah dari berbagai sumber