Promo

Konklaf, Asap Hitam dan Putih di Atas Langit Vatikan

Jum'at, 09 Mei 2025 08:31 WIB | 1.055 kali
Konklaf, Asap Hitam dan Putih di Atas Langit Vatikan

Konklaf untuk pemilihan Paus di Kapel Sistina, Vatikan, Rabu (7/5/2025) waktu setempat.


Konklaf untuk memilih Paus baru pengganti Paus Fransiskus sudah dimulai kemarin, Rabu (7/5/2025).

 - Konklaf adalah sebuah proses pemilihan Paus baru dalam Gereja Katolik Roma. Proses ini dilakukan oleh para kardinal setelah kematian atau pengunduran diri Paus sebelumnya.

Proses Konklaf adalah dimulai dari pemilihan lokasi. Biasanya diadakan di Kapel Sistina, Vatikan. Selama konklaf, para kardinal diisolasi dari dunia luar untuk memfokuskan diri pada proses pemilihan.

Para kardinal memilih Paus baru melalui proses pemungutan suara yang rahasia. Kandidat Paus baru dapat dipilih dari kalangan kardinal atau uskup lainnya yang memenuhi syarat. Yakni:

Paus harus laki-laki yang telah dibaptis. Paus biasanya dipilih dari kalangan uskup atau kardinal.

Proses Pemilihan
Para kardinal melakukan pemungutan suara hingga salah satu kandidat mencapai dua pertiga suara. Setelah Paus baru terpilih, pengumuman dilakukan melalui asap putih yang keluar dari cerobong Kapel Sistina.

Konklaf adalah proses yang sangat penting dalam Gereja Katolik Roma, karena Paus baru akan memimpin gereja global dan membuat keputusan penting tentang doktrin dan arah gereja.

Tradisi yang sudah berlangsug sejak abad ke-13 ini pernah diwarnai sejumlah momen, termasuk konklaf tercepat pada 1978.

Hingga Rabu malam, konklaf belum sepakat dalam memilih Paus baru yang ditandai dengan keluarnya asap berwarna hitam.

Asap hitam membubung dari cerobong asap di atas kapel Sistina, Vatikan, Rabu, 7 Mei 2025, sekitar pukul 21:00 waktu setempat atau pukul 02:00 dini hari waktu Indonesia Barat. Asap ini menjadi penanda, belum ada Paus baru yang terpilih dalam pemungutan suara pertama ini.

Sementara itu, di Alun-Alun Santo Petrus, tampak ribuan umat katolik tengah menunggu asap putih mengepul sebagai tanda terpilihnya paus baru. Mereka tengah bersemangat menantikan paus baru yang diutus oleh roh kudus.

Awal mula sistem konklaf modern dapat ditelusuri ke abad ke-13. Pada tahun 1268 atau 757 tahun lalu, setelah wafatnya Paus Klemens IV, para kardinal mengalami kebuntuan selama hampir tiga tahun dalam memilih pengganti. 

Paus Klemens adalah paus yang terpilih dengan proses konklaf paling lama yakni 1.006 hari.
Sebaliknya, conclave tercepat tercatat pada tahun 1503, ketika Paus Julius II terpilih hanya dalam hitungan jam setelah masa tunggu 10 hari usai wafatnya Paus sebelumnya. Namun, dalam sejarah modern. Paus Yohanes Paulus I adalah Paus dengan proses pemilihan tercepat.

Pada tahun 1978, dunia Katolik disuguhi sebuah momen yang sangat jarang terjadi dalam sejarah pemilihan Paus, ketika konklaf yang berlangsung hanya dalam waktu 33 jam berhasil memilih Paus Yohanes Paulus I, menjadikannya konklaf tercepat dalam sejarah Gereja Katolik di era modern.

Kejadian ini menandai sebuah peristiwa yang tak hanya mencatatkan nama Paus Yohanes Paulus I sebagai pemimpin Gereja, tetapi juga menggambarkan bagaimana kesatuan dan konsensus dapat tercapai dengan sangat cepat di tengah situasi yang mendesak.

Konklaf 1978 dimulai setelah meninggalnya Paus Paulus VI pada tanggal 6 Agustus 1978, meninggalkan sebuah kekosongan yang harus segera diisi. Ketika Paus Paulus VI wafat, Gereja Katolik menghadapi tantangan besar dalam memilih seorang pemimpin yang dapat mengatasi berbagai isu internal yang tengah berkembang, sekaligus memimpin umat Katolik di seluruh dunia.

Para kardinal yang berkumpul di Vatikan untuk memilih Paus baru tidak memerlukan waktu lama untuk mencapai kesepakatan.

Dengan segera, mereka menemukan figur yang dianggap tepat untuk menggantikan Paus Paulus VI. Albino Luciani, yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Venice, terpilih menjadi Paus Yohanes Paulus I. Proses pemilihan ini berlangsung secara mengejutkan cepat, hanya dalam 33 jam, sebuah waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan konklaf-konklaf sebelumnya yang sering memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Konsensus Cepat di Kalangan Kardinal
Kecepatan konklaf 1978 mencerminkan kesepakatan yang luar biasa cepat di antara para kardinal. Beberapa faktor yang memungkinkan tercapainya konsensus dalam waktu singkat adalah kesamaan pandangan mengenai figur yang cocok untuk memimpin Gereja Katolik pada masa itu.

Paus Yohanes Paulus I, dengan kebijaksanaan dan pendekatannya yang moderat, dianggap sebagai sosok yang dapat meredakan ketegangan internal Gereja dan memperkenalkan pendekatan yang lebih terbuka dan humanis terhadap tantangan zaman.

Banyak kardinal yang menganggapnya sebagai figur yang mampu menjaga kesinambungan ajaran Gereja Katolik tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional. Namun, meskipun sangat dihormati, Paus Yohanes Paulus I tidak memiliki waktu yang lama untuk membuktikan visinya.

Paus Yohanes Paulus I: Kepemimpinan yang Singkat
Setelah terpilih pada 26 Agustus 1978, Paus Yohanes Paulus I memulai masa kepemimpinannya yang hanya bertahan selama 33 hari. Meski masa kepemimpinannya sangat singkat, beliau meninggalkan warisan penting dengan gaya kepemimpinan yang penuh dengan kesederhanaan, keramahan, dan perhatian terhadap umat kecil.

Sebagai Paus, beliau dikenal karena kemampuannya menghubungkan umat Katolik dengan ajaran Gereja melalui pendekatan yang lebih personal dan bersahabat.

Namun, pada tanggal 28 September 1978, Paus Yohanes Paulus I ditemukan meninggal dunia di kamar tidurnya secara mendadak, sebuah peristiwa yang mengejutkan dunia Katolik dan menyisakan banyak pertanyaan. Sebagian orang meragukan penyebab kematiannya, namun hingga kini, misteri kematiannya tetap belum terungkap secara pasti.

Kematian Paus Yohanes Paulus I yang begitu mendalam meninggalkan rasa kehilangan di kalangan umat Katolik, yang hanya sempat mengenal beliau selama waktu yang begitu singkat.

Pilihannya yang Cepat dan Dampaknya
Konklaf yang berlangsung selama 33 jam ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa meskipun Gereja Katolik memiliki banyak perbedaan pandangan, mereka bisa mencapai keputusan bersama dengan cepat ketika dibutuhkan.

Keputusan yang diambil dengan cepat pada tahun 1978, meskipun akhirnya Paus Yohanes Paulus I tidak lama memimpin, tetap dikenang sebagai sebuah contoh kesatuan dan efisiensi dalam memilih pemimpin spiritual.

Setelah kematian Paus Yohanes Paulus I, Konklaf 1978 kembali dipanggil untuk memilih penerusnya. Paus Yohanes Paulus II, seorang Paus asal Polandia, terpilih pada 16 Oktober 1978, dan ia akan memimpin Gereja Katolik selama hampir 27 tahun, menjadikannya salah satu Paus paling terkenal dalam sejarah Gereja.

Konklaf 1978: Sebuah Momen Bersejarah dalam Gereja Katolik
Konklaf 1978 tidak hanya menandai pemilihan Paus Yohanes Paulus I dengan cepat, tetapi juga menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Gereja Katolik yang penuh dengan perubahan. 

Waktu yang singkat yang dibutuhkan untuk memilih seorang Paus menunjukkan bahwa dalam momen krisis, Gereja Katolik dapat bersatu untuk memilih pemimpin yang diharapkan dapat membawa umat menuju masa depan yang lebih baik.

Sementara Paus Yohanes Paulus I hanya memimpin dalam waktu yang sangat singkat, warisan dan kenangan akan kepemimpinannya tetap hidup di hati banyak orang. Dan dengan cepatnya konklaf tersebut, Gereja Katolik menunjukkan bahwa mereka mampu untuk tetap berpadu, memilih pemimpin mereka, dan terus maju meskipun melalui masa-masa penuh tantangan.

Kardinal Ignatius Suharyo, Calon Paus Vatikan Baru dari Indonesia

Sosok Kardinal Ignatius Suharyo, Calon Paus Vatikan Baru dari Indonesia.

Kepergian Paus Fransiskus pada 21 April lalu membuat dunia ramai membahas sosok sang pengganti.

Untuk menentukan sang penggantikan, Vatikan menggelar proses pemilihan Paus yang dikenal sebagai papal conclave atau konklaf kepausan.
Seluruh calon paus yang berusia kurang dari 80 tahun dari berbagai negara dunia akan dikumpulkan di Kapel Sistina, Vatikan untuk ikut proses pemilihan secara tertutup dan rahasia.

Tahun 2025 ini, Indonesia mengirimkan satu perwakilannya yang akan dijadwalkan terbang ke Vatikan dari Yogyakarta pada 4 Mei mendatang.

Nama calon paus dari Indonesia ialah Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo yang lahir di Bantul, Yogyakarta pada 9 Juli 1950.

Mengutip dari detikcom, Suharyo lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama dari pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora Murni Hardjadisastra.

Sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, saudara laki-laki Suharyo salah satunya menjadi biarawan dan dua saudara perempuannya menjadi biarawati.

Sejak usia 11 tahun, Suharyo sudah masuk seminari menengah di Yogyakarta. Ia melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di bidang filsafat dan teologi di Pontifical Urban University, Roma.

Sebelum menjadi Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo ditasbihkan menjadi imam sejak 26 Januari 1976 dan satu tahun setelahnya diangkat sebagai Uskup selama 2 dekade sebelum akhirnya diangkat menjadi Uskup Agung Jakarta pada 29 Juni 2010.

Pria yang juga berperan sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia dan Ordinariat Militer tersebut secara resmi diangkat sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus pada 1 September 2019.

Hal ini yang membuatnya menjadi satu dari tiga kardinal yang pernah dimiliki Indonesia.

Dari warta CNNIndonesia, Suharyo bukan salah satu kandidat potensial dalam calon Paus lainnya. Namun, Suharyo tetap yakin bahwa ia bisa memenuhi syarat dan lolos seleksi.

"Dipilih menjadi paus itu bukan ambisi. Menjadi paus itu bukan jenjang karier yang semakin naik. Itu persis yang sebaliknya. Kalau orang bercita-cita menjadi paus itu, maaf ya, bodoh. Bahwa dia dipilih itu bukan pilihan para kardinal saja," tuturnya.

Pidato Lengkap Paus Leo XIV usai Terpilih Jadi Penerus Paus Fransiskus

Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat dengan nama kepausan Paus Leo XIV terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik baru menggantikan Paus Fransiskus yang meninggal dunia pada 21 April lalu.

Kardinal Prevost terpilih menjadi Paus Leo XIV setelah proses conclave atau pemilihan Paus baru berlangsung tiga putaran sejak Rabu (7/5).

Dikutip Reuters, berikut pidato lengkap perdana Paus Leo XIV yang disampaikan dari balkon Santo Petrus Basilika, Vatikan, tak lama usai terpilih menjadi penerus Paus Fransiskus:

Damai sejahtera bagi kalian semua!

Saudara-saudari terkasih, inilah salam pertama dari Kristus yang bangkit, yang telah menyerahkan nyawa-Nya demi Allah. Saya pun ingin salam damai ini masuk ke dalam hati kalian, menjangkau keluarga-keluarga kalian, semua orang di mana pun mereka berada, semua bangsa, seluruh dunia. Damai sejahtera bagi kalian semua!

Inilah damai dari Kristus yang telah bangkit, damai yang rendah hati dan penuh ketekunan. Damai ini berasal dari Allah, Allah yang mengasihi kita semua tanpa syarat. Masih terngiang di telinga kita suara Paus Fransiskus yang meski lemah lembut namun penuh keberanian, telah memberkati Roma!

Paus yang memberkati Roma itu juga memberkati dunia, seluruh dunia, pada pagi hari di Hari Paskah itu.

Izinkan saya melanjutkan berkat yang sama: Allah peduli pada kita, Allah mengasihi kita semua, dan kejahatan tidak akan menang! Kita semua berada di tangan (lindungan) Allah. Maka, tanpa rasa takut, bersatu padu bergandengan tangan dengan Allah dan satu sama lain, mari kita terus maju.

Kita adalah murid-murid Kristus. Kristus berjalan di depan kita. Dunia membutuhkan terang-Nya. Kemanusiaan membutuhkan Dia sebagai jembatan untuk sampai kepada Allah dan kasih-Nya.Bantu kami juga, bantu sesama, untuk membangun jembatan: melalui dialog, lewat perjumpaan, menyatukan kita semua menjadi satu umat yang hidup dalam damai. Terima kasih, Paus Fransiskus!

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para Kardinal yang telah memilih saya menjadi penerus Santo Petrus dan berjalan bersama kalian, untuk Gereja yang bersatu, yang senantiasa mencari damai, keadilan, yang terus bekerja sebagai pria dan wanita yang setia kepada Yesus Kristus, tanpa rasa takut, mewartakan Injil, menjadi misionaris.

Saya adalah putra Santo Agustinus, seorang Agustinian. Ia pernah berkata: "Bersama kalian, saya adalah seorang Kristiani; bagi kalian, saya adalah seorang uskup." Dalam semangat ini, mari kita semua berjalan bersama menuju tanah air sejati yang telah disiapkan Allah bagi kita.

Kepada Gereja Roma, salam khusus saya sampaikan! Kita harus bersama-sama mencari cara menjadi Gereja yang misioner, Gereja yang membangun jembatan, berdialog, yang selalu terbuka menerima siapa pun. Seperti alun-alun ini, yang terbuka untuk semua, bagi mereka yang membutuhkan kasih, kehadiran, dialog, dan cinta kita.

(Berbicara dengan bahasa Spanyol) Dan izinkan saya juga menyampaikan salam kepada semua orang, khususnya kepada keuskupan tercinta saya di Chiclayo, Peru, tempat umat yang setia telah mendampingi uskup mereka, berbagi iman mereka, dan memberikan begitu banyak hal untuk tetap menjadi Gereja Yesus Kristus yang setia.

(Kembali ke bahasa Italia) Kepada kalian semua, saudara-saudari di Roma, di Italia, dan di seluruh dunia: kita ingin menjadi Gereja sinodal, Gereja yang berjalan bersama, Gereja yang senantiasa mencari damai, mencari kasih, dan terus berupaya hadir secara nyata, terutama bagi mereka yang menderita.

Hari ini adalah Hari Permohonan kepada Santa Maria dari Pompeii. Bunda Maria kita selalu ingin berjalan bersama kita, dekat dengan kita, membantu kita lewat doa syafaat dan cintanya.

Maka saya ingin berdoa bersama kalian. Mari kita berdoa bersama untuk misi baru ini, untuk seluruh Gereja, untuk perdamaian dunia, dan mari kita mohon rahmat istimewa ini dari Maria, Bunda kita.

Penulis: Putra Mahendra/Berbagai sumber


Klik juga artikel  di bawah ini:





Baca Juga