Promo

Alam Tidak Perlu Tuhan

Jum'at, 29 Agustus 2025 11:44 WIB | 1.413 kali
Alam Tidak Perlu Tuhan

Ilustrasi orang sedang berdoa.


Fisikawan terkemuka Stephen Hawking mengatakan alam semesta tercipta akibat hukum-hukum fisika tanpa campur tangan Tuhan.

marikitabaca - Stephen Hawking, fisikawan teoretis terkemuka asal Inggris, dikenal dengan kontribusinya yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang relativitas umum dan kosmologi. 

Salah satu pendapat kontroversialnya adalah pernyataan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak diskusi dan pertanyaan tentang hubungan antara sains dan agama.

Namun, apa yang sebenarnya dimaksud oleh Hawking dengan pernyataan tersebut? Apakah ini berarti ia menolak eksistensi Tuhan sepenuhnya, ataukah ada penjelasan ilmiah yang lebih mendalam di balik klaim ini?

Hawking sebelumnya berpendapat bahwa keberadaan Sang Pencipta tidak bertentangan dengan sains, tetapi dalam buku barunya Hawking mengatakan pembentukan alam semesta dalam peristiwa Big Bang merupakan konsekuensi tak terelakkan dari hukum-hukum fisika.

Dalam buku berjudul The Grand Design yang cuplikannya dimuat koran Inggris The Times, Hawking mengatakan pembentukan alam semesta tidak perlu melibatkan Tuhan.

Dalam buku barunya, fisikawan Inggris ini menggugat keyakinan Sir Isaac Newton bahwa alam semesta pasti dirancang oleh Tuhan karena semesta tidak mungkin terwujud dari chaos.

Untuk mendukung pendapatnya, Hawking antara lain menyebut temuan sebuah planet pada tahun 1992 yang mengorbit sebuah bintang yang bukan matahari kita.

Temuan itu berarti kondisi keplanetan kita, dimana terdapat satu matahari dan kombinasi yang menguntungkan dalam jarak bumi matahari serta massa matahari, tidak begitu menakjubkan," kata Hawking.

Tanpa Tuhan

Temuan itu menurut Hawking juga melemahkan bukti bahwa Bumi diciptakan untuk ummat manusia.

"Karena ada hukum gravitasi, alam semesta bisa dan memang terbentuk sendiri dari ketiadaan," kata Hawking.

Hawking mengatakan kehadiran Tuhan tidak diperlukan untuk memulai proses penciptaan alam semesta.

Buku baru Hawking ini ditulis bersama fisikawan Amerika Leonard Mlodinow dan akan diterbitkan tanggal 9 September.

Dalam bukunya yang terbit tahun 1988 berjudul A Brief History of Time, Profesor Hawking tampaknya menerima peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta.

"Kalau kita bisa menemukan teori yang lengkap, teori itu merupakan kemenangan besar bagi akal manusia - karena dengan demikian kita akan tahu benak Tuhan," kata Hawking ketika itu.


Pilihan Redaksi


Siapa Stephen Hawking?

Dikutip dari Britannica, Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Oxford, Oxfordshire, Inggris, dan meninggal pada 14 Maret 2018 di Cambridge, Cambridgeshire, Inggris.

Ia merupakan fisikawan teoretis yang terkenal berkat teorinya tentang lubang hitam yang meledak, yang memadukan teori relativitas dan mekanika kuantum. Hawking juga berkontribusi besar dalam penelitian mengenai singularitas ruang-waktu.

Hawking menempuh pendidikan di University College, Oxford (B.A., 1962) dan Trinity Hall, Cambridge (Ph.D., 1966). Ia menjadi anggota penelitian di Gonville and Caius College, Cambridge.

Pada awal 1960-an, Hawking didiagnosis mengidap amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit neurodegeneratif yang tak bisa disembuhkan. Meskipun penyakit tersebut semakin melemahkan fisiknya, ia terus bekerja hingga akhir hayatnya.

Hawking lebih dikenal karena karyanya dalam teori relativitas umum dan fisika lubang hitam. Pada 1971, ia mengusulkan pembentukan mini black holes setelah Big Bang, yaitu objek yang memiliki massa besar namun ukuran sangat kecil, yang dipengaruhi oleh hukum relativitas serta mekanika kuantum.

Salah satu penemuan paling terkenal dari Hawking adalah teori bahwa lubang hitam memancarkan partikel subatomik hingga akhirnya meledak karena kehilangan energinya. 

Karyanya mendorong pemahaman lebih dalam tentang sifat-sifat lubang hitam, yang sebelumnya dianggap tidak dapat diketahui.

Hawking tidak pernah secara eksplisit mengingkari kemungkinan adanya Tuhan. Namun, dalam bukunya yang sangat terkenal, The Grand Design, ia menjelaskan bahwa hukum-hukum alam semesta, seperti gravitasi, bisa menjelaskan asal-usul alam semesta tanpa memerlukan intervensi Tuhan. 

Dalam pandangan Hawking, alam semesta bisa saja muncul secara alami melalui prinsip-prinsip fisika, tanpa campur tangan kekuatan supranatural.

Hawking menggunakan konsep "hukum fisika" sebagai dasar argumennya. Ia berpendapat bahwa hukum-hukum fisika seperti gravitasi dan hukum kuantum dapat menjelaskan bagaimana alam semesta bisa terbentuk dari keadaan kosong atau singularitas tanpa perlu adanya pencipta.

Penjelasan Alam Semesta Melalui Big Bang dan Singularitas

Berdasarkan teori Big Bang, alam semesta dimulai dari keadaan yang sangat padat dan panas sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.

Dalam pandangan Hawking, setelah ledakan besar ini, alam semesta terus berkembang sesuai dengan hukum-hukum fisika yang ada. 

Singularitas, yang menjadi titik awal dari alam semesta menurut teori ini, adalah keadaan dimana hukum fisika yang ada tidak lagi berlaku atau harus direvisi.

Bagi Hawking, ini menunjukkan bahwa kita tidak memerlukan campur tangan Tuhan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bisa muncul.

Meskipun pandangannya sering disalahartikan sebagai penolakan terhadap Tuhan, Hawking sebenarnya lebih fokus pada cara ilmiah untuk menjelaskan asal-usul alam semesta.

Ia menegaskan bahwa sains dan agama dapat berfungsi dalam ranah yang berbeda dan tidak selalu saling bertentangan.

Sains mencari penjelasan logis dan empiris, sementara agama memberikan penjelasan tentang makna dan tujuan hidup.

Penulis: Putra Mahendra/berbagai sumber




Baca Juga